Banyak dari kalangan pasien dan ada beberapa rekan sejawat yang masih agak sedikit salah pengertian tentang mekanisme kerja botulinum toxin (banyak orang menyebut dengan nama dagang perusahaan obat, yaitu BOTOX).
Mekanisme kerja dari Botox sendiri adalah sebagai pelemas otot. Memang betul botox bisa merangsang pembentukan collagen, tetapi hanya sedikit. Mekanisme berkurangnya keriput pada wajah, lebih disebabkan oleh menurunnya kekuatan otot, sehingga otot tidak mampu menarik kulit terlalu kuat,akibatnya kulit tidak terlipat atau berkerut.
Botox sendiri memperoleh izin untuk mengurapi keriput wajah hanya pada bagian wajah atas. Yaitu keriput dahi, keriput antar alis, dan keriput samping mata. Botox sendiri tidak disarankan diggunakan untuk pipi bagian atas , dikarenakan pipi bagian atas berisikan otot untuk tertawa. Sehingga jika otot area ini terkena obat botulinum toxin, maka kekuatan otot senyum ini akan menurun, dan pasien akan mengalami kesulitan saat senyum, dan akan merasa wajahnya kaku.
Otot bagian pipi yang dapat di lakukan suntikan botox hanya otot rahang (masseter), dan hanya untuk pasien yang mengalami bruxism, atau kejang otot rahang.
Mekanisme lain dari kerja botulinum toxin adalah menghambat produksi kelenjar keringat dan minyak, sehingga bisa juga dipakai di ketiak untuk mengurangi produksi keringat dan bau.
Apakah permanen? Botox sendiri berfungsi mengurangi produksi ACTH, yaitu pencetus listrik otot, dengan cara menutup celah penghubung saraf (receptor). Jadi setelah 3 hingga 5 bulan, celah reseptor ini akan terbuka kembali, dan otot akan bekerja normal kembali. Jadi tidak akan terjadi namanya efek samping jangka panjang, dan tidak akan terjadi penumpukan dosis obat walaupun di kerjakan selama bertahun tahun.
Dosis obat botox terbanyak yang dapat di toleransi oleh tubuh adalah 3000 IU. Sedangkan di dunia kecantikan, kita hanya menggunakan kurang dari 100IU. Jadi ini masih sangatlah aman.